Gemintang di Temiang

Malam ini malam terakhir aku bermalam di pemukiman Orang Laut di Pulau Temiang.  Tidak seru jika malam terakhir disini hanya dilewatkan dengan bergelung di dalam kantung tidur.  Apalagi cuaca cerah tidak ada hujan dan mendung.  Kulangkahkan kaki ke beranda rumah dan duduk diatas pelantar dekat tangga. Kakiku menggantung diatas air…sejuk… Laki-laki semua sedang pergi nyuluh, sehingga rumah juga sepi. Hanya perempuan dan anak-anak kecil yang tidak ikut nyuluh.  Itupun beberapa dari mereka sudah tertidur setelah lelah aktivitas tadi siang.  Emak masih asyik meraut rotan-rotan tikus untuk digunakan sebagai penyemat daun bengkuang untuk kajang esok hari.  Kupandangi air laut di depanku yang bergerak tenang.  Pandangku menuju desa di seberang kampung ini.  Pemukiman orang-orang Melayu yang tampak terang benderang dari tempatku duduk. Sungguh kontras dengan kondisi masyarakat Orang Laut di Kampung Seberang ini.

Kutengadahkan kepala ke arah langit dan…Subhannallah… Malam ini langit di Temiang sungguh indah bertabur gemintang laksana berlian dihamparkan.  Belum pernah rasanya kurasakan keindahan maha dahsyat ini.  Sungguh langit dipenuhi bintang!  Diatas air laut yang tenang bertabur gemintang.  Belum lagi hilang takjubku memandangi gemintang, meluncur sebuah kerlip dari arah utara ke selatan seperti bintang jatuh.  Aku tidak tahu itu bintang jatuh atau hanya bintang beralih saja.  Tapi dalam hatiku berseru “Make a wish”….hehehe…

Tenangnya air laut dan malam yang cerah dengan angin teduh dan kerlip bintang, semoga memberi berkah dalam tangkapan nyuluh malam ini. Agar besok pagi mereka dapat menjual ke toke dan mengangsur hutang-hutang mereka.  Dan semoga aku pun dapat kembali datang melihat gemintang di atas laut Temiang…

Pelampungku Belahan Jiwaku

Tidak terbayang olehku bahwa aku akan menempuh lautan dan hidup diatas lautan pula.  Bulan Oktober – November 2008, kuhabiskan hari bersama teman-teman baruku Orang Laut di Kepulauan Riau.  Perjalanan yang nekad dan pasrah aja deh.  Why?? Aku sama sekali tidak dapat berenang, dan tempat yang akan kudatangi adalah lautan.  So…untuk keselamatan pribadi, makanya dibawa pelampung.  Warnanya merah menyala, biar kalau tenggelam di laut cepet nampak oleh tim SAR hehehehehe…..

Tujuan pertama adalah Tanjung Pinang, karena dari sana nanti akan mencari speed yang menuju pelabuhan-pelabuhan dimana salah satunya tinggal Orang Laut.  Salah satunya adalah Pelabuhan Senayang.  Kurang lebih waktu yang dibutuhkan speed untuk sampai ke Senayang berkisar 3 jam.  Lucu banget mungkin jika orang-orang melihat kami (aku & Dhanik) yang membawa carrier dan menenteng pelampung, sementara penumpang yang lain tampak santai dan berdandan cantik-cantik, cakep.  Ya….mungkin mereka sudah sangat biasa dengan transportasi laut, dan bisa juga berenang.  Kan mereka tinggal di kepulauan.  Cuaca nampak mendung dan gerimis sisa hujan tadi malam disertai angin kencang.  Uh…makin nggak nyaman dengan pelayaran nanti.  Dan ternyata apa yang kukhawatirkan bener deh….. Angin yang kuat membuat gelombang cukup besar sehingga speed yang terbuat dari bahan fiber ini pun berasa menghentak-hentak naik turun.  Duh perut dikocok-kocok rasanya, untungnya tidak mabuk laut.  Hujan pun masih turun meski tidak deras.  Pelampung pun makin kudekatkan kakiku dan siap pakai.  Paranoid banget ya, hehehehehe……

Alhamdulillah…setelah 3 jam akhirnya tiba dengan selamat di Senayang.  Mampir dulu di warung dekat pelabuhan untuk menenangkan hati.  Meskipun menunya hanya ada mi rebus dan teh panas.  Tapi cukup mengembalikan energi yang berceceran di perjalanan :o )  Lanjut lagi menuju rumah pak Lurah untuk berbagai macam keperluan.

Ternyata Orang Laut ini menyebar di berbagai pulau di Kepri.  Jadi tidak hanya di Senayang.  So kami pun banyak melakukan perjalanan keliling lautan dengan perahu kayu bermesin (pompong).  Hehehehe tentu selalu dengan menenteng pelampung.  Hal yang sering ditertawakan oleh tukang pompongnya karena belum ada penumpang pompongnya yang membawa pelampung sendiri.  Ya…habis gimana lagi, daripada ntar di tengah laut ada badai dan ternyata kami kecemplung laut.  Mending sedia payung sebelum hujan, sedia pelampung sebelum kecemplung, iya to…

Ada satu kejadian sepulang dari perjalanan berkeliling pulau-pulau kami terkena badai.  Waktu itu dari Pulau Kongki. Cuaca sebelumnya cerah tetapi menjelang tengah hari tampak awan-awan hitam mulai menggantung, dan angin berasa kencang.  Kami berlima (aku, Dhanik temanku, sepasang Orang Laut pemilik pompong dan anaknya) segera bersiap meninggalkan Pulau Kongki.  Baru 10 menit kami keluar dari perairan Kongki, hujan dan angin utara datang sehingga ombak tinggi bergulung-gulung menghadang perjalanan pulang kami.  Memang sih ketinggian ombak tidak sampai 3 meter, tetapi terus-menerus menghantam badan perahu kayu kami.  Pompong kecil kami pun terbanting-banting di tengah laut, tidak maju-maju rasanya.  Untung pelampung sudah terpakai di badan kami sehingga meskipun deg-deg-an agak tenang jika terpental nyebur ke laut.  Minimal tidak langsung tenggelam :o )  Tubuhku yang kurus ini rasanya mau terlempar keluar pompong.  Kami hanya dapat berpegangan pada tepian pompong dan papan kayu yang kami gunakan sebagai tempat duduk.

Uh….setelah kurang lebih 1 jam kami harus sport jantung diatas alunan ombak yang mengayun pompong ke atas dan kemudian menjatuhkan kembali, hujan dan angin pun berangsur berhenti. Ah basah kuyup tubuh dan baju kami karena hujan dan deburan ombak.  Apapun yang ada di dalam pompong semuanya basah.  Tapi meski sudah berhenti gelombang, kami masih tidak melepas pelampung, karena perjalanan masih jauh.  Takutnya badai datang lagi tiba-tiba.  E….ternyata cobaan belum terhenti.  Tiba-tiba mesin pompong mati.  Untungnya mesin mati tidak pas badai tadi.  Dicoba berkali-kali tidak hidup juga.  Mengapunglah kami di lautan.  Mesin dapat hidup sebentar, tetapi 15 menit kemudian mati lagi.  Untunglah ada nelayan lain yang lewat dan memberi bantuan memperbaiki. Alhamdulillah dapat hidup lagi, meskipun berjalan tersendat-sendat.  Kegirangan kami pun hanya sebentar, karena mesin mati lagi.  Akhirnya dikayuhlah pompong hingga tiba di tujuan.  Ya mungkin 25 menitan lah dikayuh.  Maklum yang mengayuh dengan dayung adalah Orang Laut, sehingga tenaganya sangat kuat.

Kami tersenyum lega meskipun di jalan menjadi tontonan karena berpelampung.  Seandainya kami dapat berenang pun, tetap akan memakai pelampung kok.  Lautan bukan lingkungan kami dari kecil.  Yah pelampungku adalah belahan jiwaku pokoknya.  Tidak bisa ke lain hati deh :o )

•♫••♪•♫••♪•

Ketika Wening Menjadi Bening

” Akeh ndok noik…akeh noik diatay bae hopi ngapo…, Au akeh di belakong bae, akeh mabuk…, Anak keh bolum noik…”

Berpendar kepalaku pening dengan suara-suara riuh yang tak kumengerti apa makna ucapan itu.  Ditambah dengan aroma khas yang tercium dari tubuh-tubuh telanjang berbalut selembar kain panjang.  Orang-orang yang sumpah baru kali ini kutemui dengan mata telanjangku.  Ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki di rimba Bukit Duabelas Jambi untuk memulai tugas mendampingi orang-orang rimba atau orang menyebutnya juga dengan sebutan Suku Anak Dalam.

Sebuah perjalanan atau petualangan aku tidak dapat menjabarkannya, yang pasti aku ingin mengalir saja seperti air sungai jernih yang berada di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).  Air yang segar membasahi seluruh urat nadi tubuhku.

Kuawali pagiku 6 Juli 2005 untuk bersiap berangkat menuju TNBD bersama tim kerjaku.  Di dalam mobil hiline hijau tua, tubuh kurusku yang hanya 39 kg ini diguncang kesana kemari melewati jalan tanah terjal yang naik turun tidak beraturan.  Belumlah sampai di tempat yang dituju, mobil berhenti karena bertemu serombongan orang-orang rimba. Kurang lebih 15-20 orang baik tua muda, besar kecil, laki perempuan menghentikan perjalanan kami.

Deg-deg-an  jantungku melihat penampilan mereka. Pakaian minim dan membawa senjata tajam seperti parang dan tombak panjang khas senjata mereka[1].  Beberapa orang ada yang membawa alat pancing sederhana, juga keranjang yang terbuat dari rotan[2].  Dalam pemikiranku, mereka baru saja pulang dari berburu untuk lauk.

Pada saat driver menghentikan mobil, aku serasa menjadi alien di mata orang-orang tersebut.  Mereka terlihat bercakap asyik dengan pendamping seniorku yang turut pergi bersama.  Yah maklumlah mereka sudah saling kenal.  Orang-orang rimba itu pun menumpang di mobil bersama kami untuk turut masuk hingga ke pinggiran hutan tempat mereka masuk ke dalam rimba dengan berjalan kaki.  Tentu saja semua tidak dapat turut menumpang karena jumlah mereka lebih banyak daripada kapasitas mobil.  Ups… aku harus memiringkan dan menyudutkan tubuh kurusku ini karena harus berhimpitan dengan semua yang di dalam mobil. Aih … bau kain dan keringat mereka sungguh buatku merasa aneh karena aku belum terbiasa dengan semua ini.  Sebuah perkenalan yang buatku benar-benar tidak akan pernah lupa!  Belum ada 15 menit mobil berjalan, tiba-tiba seorang rimba yang sudah agak tua mengeluarkan suara dari dalam tenggorokan ”gruegh” dan dia meludah keluar jendela.  Aduh makin diaduk rasa perutku.  Disusul kemudian orang rimba yang lain berkata, ”Akeh ndok muntah”[3].  Aduh semakin berkecamuk rasa di dalam perut hingga ke ubun-ubunku.  Driver pun segera menghentikan mobil  dan orang rimba itu pun turun dan mengatakan, ”Biarlah akeh bejelon sesorangon bae hopi ngapo.  Todo kalu noik mobil, akeh poning”[4].  Maka ditinggallah ia berjalan dan kami meneruskan perjalanan.  Sekitar 2 jam kemudian, sampailah kami di sebuah balai tempat dimana kami harus turun, karena mobil sudah tidak dapat melaju masuk lagi.  Orang-orang rimba yang turut bersama kami juga turun dan menurunkan barang bawaan mereka yang tadi ditaruh diatas mobil.  Kuseka peluh yang mengalir melalui alis mataku sambil kududukkan pantatku diatas balai.  Akhirnya aku dapat meluruskan punggungku yang tulang-tulangnya berasa gemeretak karena perjalanan tadi.  Yah, beginilah rutinitasku nantinya yang akan kujalani setiap bulan.  Berjalan keluar masuk rimba berkeliling Bukit 12.  Penuh tantangan dan pastinya mengasyikkan.

Di balai ini, aku bermalam dengan para seniorku.  Sebagai orang baru, malamnya acara perkenalan dengan para orang rimba.  Karena aku belum bisa bahasa rimba, maka tentunya ada penterjemah.  Hihihihihi…. lucu sekali acara perkenalan kami.  Orang-orang rimba ini ternyata kesulitan menyebutkan namaku ”Wening”.  Nama Jawaku itupun berubah menjadi Bening di lidah mereka.  Kebetulan juga ada anak rimba yang bernama Bening.  Kami menjadi bahan olokan ketika aku harus melanjutkan perjalanan keesokan harinya.  Sewaktu hendak naik mobil, seorang anak berucap padaku, ”Bening jengon pergi.  Todo induk mencari”[5].  Lalu tertawalah semua anak-anak.  Aku hanya tersenyum dengan ulah anak-anak tersebut.  Menggemaskan…….


[1] Belakangan kuketahui tombak panjang ini disebut kujur.

[2] Keranjang rotan khas orang rimba di TNBD dikenal dengan sebutan ambung.

[3] Saya ingin muntah.

[4] Biarlah saya berjalan sendirian saja tidak apa-apa.  Nanti kalau naik mobil, saya pusing.

[5] Bening jangan pergi.  Nanti ibu mencari.

Pok Ame-Ame…

’Pok ame-ame belalang kupu-kupu
Siang makan nasi
Kalau malam minum kopi’

Masih ingatkan dengan lagu diatas yang biasa kita nyanyikan di masa kecil.  Memang ada yang janggal di akhir lagu.  Dulu lagu ini biasa kunyanyikan “kalau malam minum susu”.  Tapi kini kunyanyikan “kalau malam minum kopi”.  Kenapa?  Karena di dalam kehidupan orang rimba ada semacam pantangan untuk mengkonsumsi sesuatu yang dihasilkan dari hewan ternak seperti sapi, ayam, kambing.  Jadi untuk menghormati adat mereka, kata susu kuganti dengan kopi.  Orang rimba memang sangat gemar sekali dengan kopi, mulai dari anak-anak hingga orang-orang tua, baik itu laki-laki atau perempuan.  Selain minum kopi, orang rimba juga perokok yang handal.  Berapapun rokok yang disediakan untuk mereka, pasti akan tandas.

foto:Lander Ranajaya/Warsi Kembali ke lagu pok ame-ame.  Kenapa aku menyanyikan lagu tersebut?  Sebenarnya hanya salah satu caraku untuk menarik perhatian orang-orang rimba, sekaligus pengusir sepi sambil aku beraktivitas di sekeliling tenda.  Kebetulan banyak anak-anak rimba berusia 3-10 tahun yang kulihat disini.  Mereka sering hilir mudik di sekeliling tendaku sambil sembunyi-sembunyi curi pandang dari balik pepohonan.  Jika aku memandang ke arah mereka , maka dengan gesit dan sigap anak-anak tersebut bersembunyi dibalik batang-batang pohon dengan seulas senyum.  Namun, ketika aku bernyanyi lagi sambil membersihkan sekitar tenda, maka kulirik dari sudut mataku, anak-anak ini perlahan-lahan keluar dari balik pepohonan dan memperhatikanku.  Satu per satu kucoba dekati dan panggil mereka, meskipun aku tidak tahu nama-namanya.  Dengan senyum malu-malu, seorang anak perempuan berambut kemerahan, panjang sebahu dibiarkan jatuh terurai tak tersisir, berkaos biru kusam yang menutup hingga atas pahanya, berusia kira-kira 8-10 tahun, datang menghampiriku.  Dia tidak mau mendekat padaku, hanya berdiri kira-kira ½ meter di depanku.  Kuingat ia bernama Nyeluh.  Di sekitar Nyeluh ada banyak budak-budak[1] yang lain, yang aku belum tahu nama-namanya.  Untuk berkomunikasi dengan mereka, aku gunakan bahasa campur aduk.  Mulai dari Bahasa Indonesia dicampur bahasa tubuh, ya mirip dengan bahasa tarsan mungkin.  Pokoknya aku berusaha keras untuk tidak diam di hadapan mereka.  Maka teruslah aku bernyanyi apa saja sambil beraktivitas.  Sesekali aku sambil menggerakkan tangan dan kakiku.  Dan ternyata mereka senang. Kulihat ekspresi tersebut di wajah anak-anak itu yang nampak tersenyum dan tertawa melihatku.  Mereka tersenyum tipis mula-mula, lalu mulai melebar hingga memperlihatkan gigi-gigi mereka yang tidak pernah gosok gigi.  Tapi ketika mereka kuajak untuk ikut bertepuk tangan dan bernyanyi, tak seorangpun  yang mau mengikuti.  Biarlah, aku akan terus bernyanyi.  Namun aku tahu mereka merekam semua yang aku katakan dan lakukan.  Apa buktinya?  Satu ketika saat mereka berkumpul di tepi sungai kecil dekat tendaku, kudengar ada yang bernyanyi lagu pok ame-ame dengan keras.  Seolah memang sengaja untuk menarik perhatianku.  Aku memang tertarik, dan segera keluar dari tenda, melangkahkan kaki menuju tempat mereka.  Pelan-pelan kuintip mereka, dan ternyata anak-anak tersebut sedang berpasang-pasangan sambil menepukkan tangan dengan lagu pok ame-ame.  Ketika mereka menyadari kedatanganku, sontak mereka berhenti, kemudian bubar berlarian sambil tertawa-tawa.  Kupanggil mereka agar berkumpul bersamaku. Yah tidak segampang itu mengajak anak-anak ini.  Tetapi pelan-pelan mereka mulai mendekat, lalu kuajak mereka bernyanyi bersama lagu pok ame-ame sampai mereka hapal.  Bermula dari lagu ini, maka anak-anak inipun dekat denganku, bahkan kemudian induk-induk[2] mereka juga mulai berkenalan denganku.

Anak-anak sering datang berkunjung ke tendaku dan membantuku mengumpulkan ranting-ranting kayu kering untuk kayu api.  Tanpa kuduga tahu-tahu mereka sudah datang dengan membawa ranting-ranting tersebut.  Sungguh aku tersentuh.  Bahkan satu saat ketika aku harus menikmati hujan lebat hingga semua persediaan kayu apiku basah dan tendaku kebanjiran, seorang induk tiba-tiba datang dengan membawa setumpuk kayu api kering untukku.  Hehehe… induk ini mungkin kasihan melihatku kesusahan membuat api karena semua kayu basah.  Induk tersebut ternyata Induk Nyeluh[3].  Ia juga yang tanpa kupinta tiba-tiba meminjamiku sebuah galon[4] air, supaya aku tidak capek bolak-balik ke sungai untuk mengambil air.

Aih…banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan……

♪♪♪♪♪♪♪♪♪


[1] Budak-budak = anak-anak
[2] Induk = ibu.
[3] Induk Nyeluh = ibunya Nyeluh.  Pada orang rimba untuk perempuan yang sudah mempunyai anak, dipanggil dengan sebutan nama anak pertamanya.
[4] Galon disini maksudnya adalah jerigen air.

Anak-Anak itu Bercerita Padaku…

Assalammualaikum daun jerambang
Daun jerambang bujuk selalu
Mandi dimono mandi diulak
Lesung batu hati siapo tidak ingin
Susunulak dalam baju
Mamak danca mamak dancu
Ngantay gulay balik ke talang
Sepantun puoh dekekuk tupai
Tumbak ganjung pengawinan kundang
Adek … o, ya …

(sebagian dari semacam mantra untuk mengambil rapa/madu)

Alunan lirih lagu tersebut menjadi pengantar tidurku suatu malam di pondok belajar Bukit Epal, di bagian sisi selatan Bukit 12.  Pondok belajar yang aku singgahi kali ini berada di Bukit Epal.  Budak-budak pelajoron yang ada termasuk ke dalam rombong/kelompok Ninjo.  Sangat nyaman, tenang, dan damai.  Suara burung tidak pernah berhenti berbunyi.  Saat sore menjelang, akan terdengar suara burung Gading memecah petang.  Menakutkan saat pertama aku mendengarnya, serasa berada di kawasan yang penuh nuansa mistis.  Apabila waktu sore atau malam turun hujan, maka keesokan paginya akan terdengar riuh suara siamang bersahutan.  Hari-hari biasa sebenarnya juga ramai oleh suara Siamang, namun akan lebih ramai apabilai usai hujan sebelumnya.

Pondok belajar dibangun sederhana.  Berupa rumah panggung tanpa dinding, berlantai papan dan potongan kulit kayu, beratap plastik terpal.  Dalam imajinasiku pasti akan terasa dingin dan diserbu nyamuk-nyamuk nakal bila malam tiba.  Tapi … ternyata aku salah besar!  Dingin memang, tetapi tidak ada nyamuk yang mengerubutiku.  Atau mungkin nyamuk enggan mendekat padaku?  Disela aktivitas pendampinganku, sering aku bertukar cerita dengan anak-anak seperti satu malam usai hujan, dan bulan juga nampak bulat.  Bekinya (13 tahun) dan Begendang (9 tahun) bercerita padaku tentang proses pengambilan madu dari pohon sialang.  Mereka juga memberikan sedikit praktik deskripsi persiapan pengambilan madu sialang.  Bekinya bercerita bahwa sialang adalah pohon yang dikeramatkan bagi orang rimba.  Sialang tidak boleh ditebang, bagi yang menebang akan mendapatkan denda adat dengan membayar beberapa keping kain (dapat mencapai ratusan keping kain, sekitar 500 lembar) kepada penghulu[1].  Untuk pengambilan madu di pohon, harus dilakukan pada tengah malam dan bulan tidak muncul.  Jadi keadaannya memang benar-benar gelap gulita sehingga lebah tidak mudah melihat orang yang akan mengambil madu, fungsinya untuk menhgindari sengatan lebah.  Agar lebah-lebah ini menjauh, dibuat pula obor dari kayu tunom, yang nantinya akan dibalurkan ke sarang-sarang yang ada madunya.  Bekinya mempraktikkan padaku cara membuat obor tersebut.  Pertama-tama mereka menebang kayu.  Batang yang telah ditebang sekitar ¾ meter, dipukul-pukul bagian ujungnyg dengan kayu, kemudian dikelupas kulit kayu bagian luarnya menggunakan parang.  Setelah bersih, terlihat batang kayu yang putih agak kekuningan. Nah, batang kayu ini kemudian dipukul-pukul dari ujung hingga pangkalnya, akhirnya kulit batang akan terlepas menjadi berupa serabut-serabut yang masih kasar berwarna cokelat.  Kulit batang yang sudah berupa serabut kasar ini kemudian terus dipukul hingga serabutnya menjadi lebih halus.  Selanjutnya diasapi supaya kering dan tidak ada airnya, sehingga akan lebih mudah nantinya dibakar.  Serabut kayu yang sudah kering kemudian dijalin menjadi satu menggunakan tali rotan menyerupai sebuah obor.  Nah, obor kayu tunom sudah siap untuk dibakar, sebagai salah satu kelengkapan pengambilan madu. Bekinya dan Begendang menceritakan bahwa mereka sangat menyenangi pengambilan madu pada saat prosesi peluluran sarang dengan obor kayu tunom.  Kenapa?  Karena mereka seperti melihat bunga-bunga api yang jatuh ke bumi, seperti iyup-iyup[2] yang beterbangan.

Ujung kayu tunom dibakar lalu dibawa naik ke pohon dan dibalurkan ke sarang lebah agar lebah-lebah tersebut menjauh dari rumahnya, sehingga madu mudah diambil.  Saat pengambil madu menaiki/memanjat  pohon sialang, ia sambil mengucapkan mantra tertentu.  Di setiap rombong memiliki ciri khas tersendiri mengenai lirik mantra yang diucapkan, meski secara garis besar mempunyai kesamaan antar rombong.  Pada proses pengambilan madu, sering terjadi hal-hal gaib yang tidak dapat dilihat mata manusia secara wadag atau nyata.  Masih menurut penuturan Bekinya, saat pengambilan madu ada ular jelmaan yang melilit si pengambil madu.  Ular ini tidak mencelakakan, justru akan melindungi si pengambil madu supaya tidak jatuh dari atas pohon.  Hanya pengambil madu dan orang-orang yang sakti yang dapat melihat kehadiran ular ini.  Untuk naik ke atas pohon, pengambil madu tidak dibekali peralatan keamanan khusus.  Ia hanya membawa kayu lantak yang dipergunakan sebagai pijakan menaiki pohon sialang.

Ketika Bekinya dan Begendang menghidupkan api tunom, kami bermain dengan obor tersebut.  Sayang karena pengasapannya belum kering benar, maka kayu tunom tidak dapat hidup layaknya obor.  Kayu tunom hanya terbakar ujungnya saja.  Bersama anak-anak, kami melompat dan berteriak girang memainkan api tunom yang berkelap-kelip bunga apinya turun ke tanah. Sangat indah dan takjubku.  Yah…semoga saja hutan dan TNBD tidak punah, agar sialang tetap terjaga sehingga madu pun akan terus mengalir.

Bersorak kami mumpa budak kecik[3]
Tertawa, meloncat, lepas…
Berbareng loncatan-loncatan api tunom yang terbakar
Serupa iyu-iyup terbang
Tersebar … melayang …
Dalam redup purnama bulat putih berpendar
Menjadi damar di tengah malam.

[1] Pimpinan kelompok orang rimba.

[2] Kunang-kunang.

[3] Seperti anak kecil.

Belangun Masa Remayao Orang Rimba

Kami : Mikay ndok kemono guding bewo haba-haba benyok samo pembungkuy ? (Kalian hendak pergi kemana, membawa banyak barang-barang dengan pembungkusnya juga?)

Orang Rimba   :   ……  E… guding kamia ndok pogi belangun.  (…E…kami hendak pergi belangun)

Kami :  Siapo nang mati ?(Siapa yang meninggal ?)

Orang Rimba :  adolah rombong kami, nye mati keno sakit………  maaf guding kamia piado bisa sobut kanti iyoy…. kedulat…. (Adalah dari rombong kami yang meninggal karena terkena sakit….maaf kami tidak dapat menyebutkan namanya….kuwalat…)

Kami :  Ndok Belangun ke mono rombong Mikay ? (Mau belangun kemana rombong kalian?)

Orang Rimba :   e…. adolah kami ndok bejelon ke Tupang di Alai……..(E…adolah kami hendak berjalan ke Tupang Dialai….)

Sebuah percakapan ringan saat kami menemui serombongan Orang Rimba yang berada di sisi selatan Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi.  Orang Rimba ini sedang belangun atau yang sering juga terdengar di telinga kita dengan kata melangun.  Bagi Orang Rimba, belangun merupakan suatu proses migrasi Orang Rimba yang berkaitan dengan ritus kematian atau masa berkabung. Pada masa ini Orang Rimba akan berpindah tempat atau meninggalkan tempat tinggal mereka semula dan mencari tempat tinggal yang baru.

Dalam masa ini Orang Rimba akan membawa semua barang-barang mereka yang sangat berharga bagi mereka. Barang-barang atau disebut haba-haba ini berupa peralatan memasak seperti periuk, kuali ( wajan ), tikar.  Selain itu juga senjata berupa parang, kujur, dan beliung yang biasa digunakan Orang Rimba untuk berladang atau membuka ladang, juga untuk berburu binatang sebagai lauk mereka.  Peralatan memasak biasanya mereka bawa dengan dimasukkan di dalam ambungAmbung merupakan keranjang khas Orang Rimba yang terbuat dari rotan dan dibalur dengan jernang sebagai pewarna ambung tersebut. Ambung ini memiliki diameter beragam, namun untuk untuk membawa barang – barang ini ambung berdiameter kira-kira 50 cm, sehingga cukup besar untuk menampung barang bawaan selama belangun. Ambung ini kemudian dibawa dengan dipakai seperti kita mengenakan ransel, atau terkadang dipanggul dengan tali. Ambung disangkutkan di kepala, mirip Suku Asmat membawa tas rajutnya. Barang lain yang merupakan harta Orang Rimba yang sangat penting untuk dibawa adalah kain panjang.  Kain ini menjadi penting karena berfungsi sebagai pembayar denda adat apabila Orang Rimba melakukan kesalahan. Kain-kain panjang ini selalu sudah terkemas rapi di rumah, sehingga ketika akan belangun tinggal dibawa.  Kain-kain panjang dibungkus dalam tikar pandan, yang sebelumnya dibungkus pula dengan kain putih (kain mori). Mereka akan memanggul barang-barang tersebut sampai mereka tiba di lahan yang dalam pandangan mereka merupakan areal yang baik untuk dibuat pemukiman sementara. Dianggap baik bila di tempat tujuan ini tersedia cukup bahan makanan untuk mereka.  Selain itu dapat juga berupa ladang karet yang siap sadap, sehingga selama belangun Orang Rimba tidak menderita.  Biasanya pula, Orang Rimba belangun tidak jauh dari arah hulu sungai agar kebutuhan akan air dapat tercukupi.

Saat belangun, Orang Rimba akan tinggal di tempat-tempat yang jauh dari dari tempat si meninggal.  Terkadang Orang Rimba mendirikan sudung (tempat tinggal sementara yang tidak berdinding dan atapnya terbuat dari plastik terpal hitam) di areal perkebunan sawit atau kebun karet milik orang desa, sampai pada akhirnya mendapatkan areal yang dapat dijadikan tempat tinggal untuk membuka pemukiman baru.  Selama belangun, terkadang Orang Rimba tidak membawa cukup bahan makanan. Biasanya hanya membawa ubi kayu (lembau) dan ubi jalar (pilou) yang dimasukkan ke dalam ambung.  Banyak diantaranya yang hanya membawa persediaan untuk 2 hingga 3 kali makan saja. Disamping itu Orang Rimba juga bergantung pada bahan makanan yang ada di rimba atau di sekeliling mereka.

Dalam budaya Orang Rimba fase belangun merupakan fase dimana kehidupan mereka sangat tergantung kepada ketersediaan sumber daya alam.  Fase ini Orang rimba menyebutnya juga dengan masa remayao. Remayao merupakan masa dimana Orang Rimba mengalami paceklik atau kekurangan sumber bahan makanan.  Pada masa ini banyak yang mengalami kekurangan gizi sehingga banyak yang terkena penyakit yang sering berdampak pada tingginya angka kematian, sehingga pada akhirnya mereka akan belangun lagi ke lain tempat.  Persediaan bahan makanan yang mereka punya hanya mampu menghidupi untuk beberapa kali makan saja.  Setelah semuanya habis tentunya hanya alamlah yang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan akan makan.  Bahan makan yang dari alam ini seperti :  benor, gadung (gedung), ubi jalar (pilou), singkong (lembau), dan buah-buahan yang sedang musim saat itu. Pada saat tertentu mereka juga memperoleh hewan buruan seperti rusa, kijang, kancil, babi hutan, lelabi, dan ikan sungai.

Penentu dimana tempat yang akan menjadi tempat belangun biasanya pengulu di rombong/kelompok tersebut.  Pengulu ini bisa seorang tumenggung, tengganai, mangku, menti, ataupun depati.  Dapat juga bila di rombong tersebut tidak ada seorang pengulu, maka dipilih rerayo (seseorang yang dituakan). Tidak ada ritual khusus dalam penentuan lokasi baru. Yang penting di tempat yang akan ditempati nanti tersedia sumber makanan dan binatang buruan yang cukup serta air yang akan mereka pergunakan untuk kehidupannya.  Tempat-tempat yang dijadikan sebagai tujuan belangun pada saat sekarang ini sudah tidak lagi ideal seperti pada masa dulunya.  Dari keterangan para rerayo, dulu tempat yang sering dijadikan tujuan belangun ini harus yang masih hutan dan sangat luas.  Karena di daerah ini juga nantinya siklus dari kehidupan baru mereka akan bergulir.

Lamanya waktu belangun yang diperlukan orang rimba bergantung pada suasana hati / perasaan Orang Rimba yang sedang belangun. Jika sudah tidak teringat lagi dengan orang yang meninggal, maka Orang Rimba akan pulang kembali ke tempat tinggalnya semula.  Tetapi apabila Orang Rimba masih merasa sedih dan belum tenang karena masih teringat dengan kerabat/anggota kelompok yang meninggal, maka bisa dipastikan belum akan pulang sampai rasa tenang itu diperolehnya. Rasa tenang disini maksudnya Orang Rimba yang sedang belangun tersebut sudah tidak merasa sedih lagi ketika mereka diingatkan dengan orang yang meninggal. Namun apabila mereka masih menangis ketika diingatkan dengan si mati, itu berarti rasa tenang belum diperoleh.

Seperti yang diungkapkan oleh Bepak Meluring (Orang Rimba di Tanah Kepayong) waktu belangun yang paling lama berkisar 3 – 4 tahun, sementara yang paling sebentar hanya 1 tahun.  Namun pada saat ini, lamanya waktu untuk belangun relatif lebih singkat.  Ada beberapa rombong / kelompok, ketika belangun lamanya waktu hanya sekitar 3 bulan. Bahkan ada yang lebih singkat, sekitar 3 hari saja.  Ada berbagai macam asumsi yang dikaitkan dengan lama atau singkatnya waktu belangun. Pada kasus terakhir yang hanya 3 hari saja, pada saat itu memang yang meninggal seorang bayi yang masih berusia sekitar 1 minggu. Jadi karena masih sangat muda, kenangan terhadap si bayi belum terlalu mendalam.  Dari hal yang tersebut diatas bisa saja faktor usia dan kedekatan menjadi dasar, lama atau singkatnya waktu belangun.

Pada saat Orang Rimba kembali dari belangun, tidak semua anggota rombong/kelompok kembali lagi seperti sebelumnya. Hal ini disebabkan mereka sudah menemukan lokasi atau tempat yang dianggap sudah baik untuk memulai dan menata kembali kehidupannya.  Kebanyakan  Orang Rimba apabila telah menemukan areal seperti ini, pertama yang dilakukan adalah membuka ladang.  Hal ini dikarenakan selama masa belangun si Orang Rimba berada dalam masa kekurangan.  Oleh karenanya Orang Rimba akan sesegera mungkin membuka areal perladangan yang akan ditanami dengan sejenis umbi-umbian sebagai stok bahan pangan mereka.

Ada beberapa asumsi berkaitan dengan pemilihan tempat belangun, yang pertama adalah pemilihan tempat berdasarkan pada ketersediaan sumber penghidupan untuk mereka. Ini lebih diasumsikan apakah tempat tersebut adalah tempat yang baik untuk penghidupannya atau tidak (tempat yang dianggap baik apabila terdapat banyak benor, gedung, dan bahan makanan yang lain). Kedua apabila orang yang mati tersebut adalah orang dewasa, maka pemilihan tempat belangun selain pada alasan yang pertama juga ada pertimbangan apakah di tempat yang baru tersebut pernah dijadikan tempat tinggal orang yang mati atau belum. Apabila pernah menjadi tempat tinggal orang yang sudah mati maka rombong tersebut akan mencari tempat yang lain. Mengapa ? Karena tempat tersebut tetap akan meninggalkan kenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ketika belangun, Orang Rimba juga meninggalkan ladang dan rumah. Tetapi kalau ada yang tinggal karena tidak merasa terlalu bersedih, maka orang tersebut yang mengurus semuanya. Selama ia menjaga dan mengurus ladang yang ditinggalkan kerabatnya belangun, maka ia diperbolehkan empunya lahan untuk mengambil bahan makanan yang terdapat di ladang tersebut.  Namun apabila tidak ada yang tinggal, maka sekali waktu ada yang menengok ladang kemudian balik lagi ke tempat belangun.

Belangun pada saat ini bisa diasumsikan lebih mengacu pada keberadaan lahan yang dipunyai di tempat tujuan. Misalnya : sebut saja orang rimba X, yang semula tinggal di wilayah A, suatu ketika anggota rombongnya ada yang mati, sehingga membuat rombongnya harus belangun. Nah ia belangun ke wilayah B yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan jalan kaki dari tempat asal. Ternyata setelah ditelusuri, di wilayah tersebut ia mempunyai lahan dan kebun karet. Nah ini dapat diasumsikan bahwasanya ketika mereka belangun pada saat sekarang ini, daerah tujuan awal yang akan mereka lihat adalah lahan dimana mereka bisa menggantungkan hidupnya pada ketersediaan sumberdaya apa yang mereka miliki sebelumnya,. Misalnya  lahan tersebut sudah ditanami karet.  Jika dilihat dari apa yang mereka lakukan saat belangun, hal ini hanya ingin mengurangi terjadinya kekurangan pangan pada saat mereka harus remayao.

(Tulisan ini ditulis bersama Bubung Angkawijaya, dan dimuat di Buletin Alam Sumatra, Jambi edisi Januari-Juni 2007, dan dimuat pula dalam buku terbitan KKI-Warsi berjudul “Orang Rimba Menantang Zaman”, cetakan pertama, 2010).

Berdiom atau tidak adalah sebuah pilihan…

Berdiom dalam bahasa rimba berarti menetap, yaitu tinggal berkampung seperti masyarakat yang hidup diluar masyarakat rimba.  Selama ini Orang Rimba (OR) dikenal sebagai masyarakat yang kadang-kadang masih berpindah tempat, apalagi jika ada kematian, maka akan pergi belangun (berpindah tempat). Bagi OR yang berdiom, maka ia akan keluar dari kelompoknya dan memilih untuk tinggal di dusun. Tentunya rumah yang akan ditempati juga berbeda bentuk dengan rumah OR yang biasanya hanya berupa sudung sederhana di dalam rimba.  Salah satu cirri OR berdiom selain hidup menetap atau berkampung, adalah memeluk salah satu agama tertentu yang ditetapkan pemerintah.  Mengikuti aturan masyarakat umum.   Biasanya agama yang dipilih, kalau tidak Islam, ya Katolik, Kristen.  Tergantung lebih dominant mana masyarakat di sekeliling OR tersebut.  Selama ini OR dianggap tidak beragama dari kacamata kita, karena mereka tidak mempunyai keyakinan seperti yang ditetapkan oleh negara.  Padahal OR juga mempunyai agama dari kacamata dan keyakinan mereka.  Mereka tetap percaya adanya Sang Pencipta.

Tentunya ada berbagai macam alasan ketika seorang OR memutuskan untuk berdiom.  Konsekuensinya jelas, ia dikeluarkan sebagai OR, karena berdiom.  Tidak berhak untuk menambah/membuka ladang di dalam rimba tempat ia dulu pernah hidup.  Dan apabila ia sebelumnya memiliki jabatan tertentu di dalam kelompoknya, maka jabatan tersebut harus ditanggalkan. Ketika seorang OR memilih berdiom, maka ia pun harus siap dengan banyak perubahan yang harus dihadapi sebagai orang dusun atau orang terang.  Ia yang semula hidup dari berburu, meramu, mengumpulkan hasil hutan, harus dapat mengikuti pola hidup di desa yang kebanyakan hidup bertani.  Memang OR juga bertani ketika di rimba, tetapi tentunya berbeda dengan pertanian di desa.

Penyesuaian budaya setelah memeluk suatu agama, tentunya juga bukan hal mudah bagi OR.  Ada agama yang mengharamkan jenis makanan tertentu, sementara bagi OR itu adalah lauk yang enak. Jenis makanan yang semula tidak boleh/tabu dimakan ketika masih berstatus OR, kini setelah berdiom maka makanan tersebut menjadi halal.  Semula OR pantang mengkonsumsi daging ayam, telor, daging sapi, susu, dan hasil olahannya.  Mengapa?  Karena jika hal tersebut dilanggar, maka dewa mereka akan marah. Tetapi setelah berdiom, tidak ada pantangan lagi akan makanan tersebut.

Banyak penyesuaian yang harus dilakukan oleh OR ketika akhirnya memilih untuk berdiom, mengingat sudah sekian lama menjadi OR.  Tentunya itu adalah hak dan pilihan mereka untuk berdiom atau tidak.

♫♪♣♪♫

Perempuan Rimba

Perempuan, seringkali hanya dipandang sebagai subordinat laki-laki.  Ya memang tidak semua demikian halnya. Aku pun sering tergelitik ingin tahu seperti apa sih pandangan perempuan rimba terhadap rimba tempat mereka hidup.  Empat tahun yang lalu aku sempat ngobrol-ngobrol dengan 2 orang perempuan rimba di tempat yang berbeda.  Besae, seorang perempuan rimba yang kala itu baru saja menikah dan sedang hamil 5 bulan.  Ia mengatakan tidak ingin mendukung suami untuk menjual ladang kalau hanya untuk membeli sebuah sepeda motor. Ia berpandangan, jika ada perempuan yang mendukung jual-jual lahan, berarti tidak baik, karena tidak memikirkan bagaimana kehidupan anak cucunya nanti.  Membeli motor kan butuh bensin, dan itu juga dibeli dengan uang. Bagaimana mendapatkan uang jika tidak bekerja. Belum lagi jika  motor rusak karena jalanan di rimba tidak semulus jalan di dusun.  Motor hanya kenikmatan sesaat setelah menjual ladang.  Uang banyak dipegang setelah ladang terjual, tetapi akan segera habis ketika dibawa ke pasar.  Lain halnya jika masih memiliki ladang.  Meskipun hasilnya sedikit tetapi setiap saat ada yang dapat dimakan.  Jika ditanam karet, berarti menabung untuk 7 tahun ke depan siap disadap.  Sambil menunggu karet tua, dapat menanam ubi, singkong, cabe, yang jika dibawa ke dusun juga menghasilkan uang.  Demikian pula pemikiran Beraden, yang menganggap ladang adalah tempat mencari lauk, sekalipun hanya ditanam cabe rawit, cabe merah, ubi, dan singkong.  Pada saat itu, ladang Beraden juga ditanami karet tetapi masih muda.  Dulu ladang Beraden dan suaminya hampir dijual, tetapi Beraden tidak setuju sehingga batal dijual.

Perempuan rimba memang memiki kuasa atas harta.  Meskipun hal ini tidak membuat perempuan mempunyai dominasi dalam setiap peristiwa yang terjadi. Perempuan rimba berhak atas kepemilikan segala peralatan rumah tangga, ladang serta tanaman yang ada, kain yang merupakan harta tertinggi bagi Orang Rimba juga menjadi kuasa perempuan.  Apabila terjadi perceraian pun, perempuan yang berhak atas semua harta termasuk jika anak, maka anak akan ikut perempuan.  Nampaknya memang laki-laki rimba yang berkuasa karena dapat melakukan poligami, bebas bepergian dan bertemu siapa saja. Tetapi jangan salah dengan semua itu.  Perempuan rimba mempunyai posisi yang tinggi dalam adat masyarakat Orang Rimba.

♣ ♫ ♠ ♪ ♥

So Sweet…

Sore itu aku, Ferry rekanku dan  anak-anak rimba kumpul-kumpul dan main bersama.  Tidak ada kegiatan belajar sore ini karena ya memang anak-anak inginnya bermain, jadi kami ikut aturan mereka saja.  Belajar toh tidak dapat dipaksakan jika yang mau belajar sedang tidak ingin.  Beteduy, Besengum, Merbang, datang membawa kepiting sungai.  E… tahu-tahu itu kepiting diberikannya padaku.  Aduh senengnya aku.  Nggak nyangka saja mereka begitu baiknya.

Sementara Mulao dan Begendang, 2 orang kakak beradik yang umurnya waktu itu berkisar 7 dan 8 tahun, mencari ikan di sungai kecil dekat pondok kami.  Mereka mencari ikan dengan menuba.  Tetapi jangan salah, menuba yang mereka lakukan tidak dengan tuba yang seperti digunakan orang umum yang dapat mematikan seluruh penghuni sungai dan dapat meracuni.  Mereka menggunakan kulit kayu.  Caranya kulit kayu tertentu ditumbuk kemudian dimasukkan ke sungai.  Nah ikan-ikan ini nanti ada yang mabuk, ada yang mati, sehingga mudah ditangkap.  Sayangnya air sungai berubah menjadi hitam karena kulit kayu tersebut.  Tetapi kata anak-anak ini, air tersebut tidak akan meracuni kita.  Jadi aman gitu…

Anak-anak rimba ini sebenarnya cerdas-cerdas juga lho.  Beberapa cepat sekali menangkap yang masuk dalam memori dan merekamnya.  Seperti seorang anak bernama Beteduy.  Ia tidak pernah ikut belajar, tetapi tiba-tiba suatu sore dia bernyanyi “Kring-kring ada sepeda”.  Berteriak-teriak ia bernyanyi dari ladang tempat ia tinggal.  Ya ampun aku tidak pernah mengajarinya bernyanyi.  Hanya aku ingat, ia selalu mendengarkanku ketika aku bernyanyi-nyanyi lagu anak-anak saat mandi.  Jadi ternyata selama ini ia memperhatikan, dan setelah hapal semua, ia seolah ingin menunjukkan padaku bahwa ia pun dapat menyanyikannya.  Anak-anak memang dimanapun adanya senang melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh kita.  Ada lagi suatu pagi, Begendang mengejutkanku.  Usai kami makan pagi, ia membereskan semua peralatan dan bilang kepadaku bahwa ia yang akan mencucinya.  Padahal aku tidak menyuruhnya.  Kuperhatikan ia turun ke sungai, dan ternyata ia meniru cara mencuci yang kemarin aku lakukan.  Ia gosok semua periuk, nesting yang hitam karena pembakaran kayu, menjadi kembali putih kinclong.  Wah nggak nyangka aku.  Jadi seneng, haru, berbaur jadi satu.  Aku seneng karena satu hal baik telah ditiru, yaitu kebersihan.  Sekalipun selama ini aku tidak pernah menyuruh-nyuruh mereka macam-macam.  Paling-paling aku minta tolong meniupkan kayu api agar apinya besar hehehehehe……

… ♪ ♫ ♪ ♫ …

Apo Nye…Apo Nye…

Itulah yang selalu diucapkan Merbang, Bekatong, dan Besengum saat mereka mengikutiku ke sungai untuk mandi.  Usia mereka kalau tidak salah berkisar masih balita kala itu (2005).  Yaa Orang Rimba kan tidak mengenal konsep umur, jadi kita sendiri yang mengkira-kira sendiri.  Duh aku jadi ribet sebenarnya kalau anak-anak ini mengikutiku mandi. Semuanya ditanyakan padaku.  “apo nye?”, begitu katanya sambil menunjuk sabun, odol, sikat gigi, handuk, shampo, dan lain-lain. Maksudnya “itu apa”.  Aku pun bersabar dan tersenyum menjawab yang mereka tanyakan sambil berganti memakai kain basahan/kemban untuk mandi.  E…..tiba-tiba malah Induk Besengum (ibunya Besengum) malah ikut nyusul dan langsung masuk ke air.  Ya sudah……mungkin mereka penasaran denganku yang baru dikenal, sehingga mereka ingin tahu bagaimana sih kalau aku mandi.  Hehehehehe….ternyata kan sama to pake kemban.  Induk Besengum hanya sebentar dan langsung naik dari sungai, sementara anak-anak itu masih terus bersamaku.  Walah kalau gini terus, gimana aku berganti pakai baju kering nanti ya. Ternyata lama-lama bosan juga anak-anak itu menunggui aku mandi yang nggak selesai-selesai, karena memang aku sedang memanjakan diri di sungai yang bener-bener jernih dan segar.  Bagi mereka kan biasa to.  Bagiku amat luar biasa dapat mandi di sungai begini.  Mereka segera berlarian naik dan pergi entah kemana untuk bermain.  Sementara aku memuaskan berendam di beningnya air sungai.

Beberapa anak-anak rimba yang masih kecil, sering mengucapkan apo nye dan menanyakan semua hal yang baru mereka kenal.  Kadang-kadang kita pun juga letih untuk menjelaskan karena anak-anak ini juga belum mengerti bahasa kita, sementara waktu itu bahasa rimbaku pun masih amat sangat buruk.  Sering aku meminta bantuan anak-anak yang sudah lebih besar untuk membantu menjawab apa yang ditanyakan.  Ini juga kesempatanku untuk sekaligus memperdalam bahasa rimba.  Jadi kami saling belajar to ;-) Tidak ada yang mengajar dan diajar, tetapi kami setara, saling belajar…… Indah bukan.

… ♫♪♫♪♫ …

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.